Kamis, 07 Agustus 2014

UNOK

Terkisahlah seorang hamba tuhan yang bernama Uno. dia bertubuh tinggi besar dan perkasa.  perawakan tubuhnya yang tinggi besar itu membuatnya tampak sangar dan menakutkan,tetapi budi bahasanya berkebalikan dengan keadaan tubuhnya. Unok sangatlah baik hati dan santun, sehingga banyak orang senang bergaul dengannya. Unok juga dikenal sebagai seorang ulama.
Unok mengaku selalu bersembahyang di Mekah, dan sholat jum'at di daerah Gayo.
"Bagaimana Unok dapat melakukan semuanya ini?"
Jika ditanya seperti itu, Unok hanya menjawab dengan suara tawanya saja. Tentu saja jawaban itu membuat orang menjadi semakin penasaran.
Suatu hari Unok mengumpulkan semua orang yang dikenalnya. Undangan itu tentu saja membuat orang bertanya dalam hati, apa pula yang akan di kerjakan Unok yang misterius ini.
"Demi keselamatan saudaraku semuanya, aku akan menceritakan sesuatu. Aku telah menerima wahyu dari Tuhan."
Tentu saja sebagian warga menertawakannya. Mereka menganggap Unok yang biasa santun kini telah berubah menjadi seorang pembohong. Tuhan memberikan wahyu hanya kepada para nabi dan rasul-Nya. Kini ketika Unok mengatakan bahwa dirinya mendapatkan wahyu, tentu saja warga menjadi marah.
"Wahyu aku terima dari Tuhan yang Maha Pencipta Bumi dan Langit ini," ujar Unok.
Orang-orang tak ingin mendengarkannya, bahkan beberapa orang mulai meninggalkan tempat berkumpul itu.
"Suatu saat nanti, Tuhan akan menurunkan mala petaka di daerah Gayo ini, yaitu air bah dahsyat yang akan menenggelamkan dan menghancurkan harta benda dan raga manusia di daerah ini".
Ucapan Unok dianggap oleh warga sebagai isapan jempol belaka. Meskipun demikian, Unok tak merasa sakit hati meski beberapa warga melecehkannya.
"unok telah gila." itu kesimpulan warga yang diucapkan di depan Unok.
Meski tak ada warga yang mempercayai ucapan Unok bahwa akan terjadi malapetaka berupa air bah yang akan menghancurkan daerah Gayo, Unok tetap pada keyakinannya. mulai saat itu ia keluar masuk hutan mencari pohon yang sangat besar yang akan digunakannya untuk membuat perahu. Pikir unok, saat air bah datang melanda, dia akan menyelamatkan diri dengan menaiki perahu yang akan dibuatnya itu. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Unok mencari pohon yang sangat besar. Akhirnya, dia menemukan juga pohon yang sangat besar itu. Pohon itu tumbuh di tepi sebuah mata air yang besar.
Unok berpikir, mencari cara untuk merbohkan pohon yang sangat besar itu. Saat itu ia tak memiliki peralatan apapun yang bisa digunakan untuk menebang. Akhirnya, dia menemukan satu-satunya cara yang dapat dilakukannya, yaitu dengan mencabut pohon itu.
Dengan menggunakan kesaktiannya, Unok berhasil mencabut pohon yang sangat besar itu dengan sekali hentak. Tiba-tiba saja dari bekas cabutan akar pohon, menyemburlah air yang sangat deras. Tapi semburan air itu tak juga berhenti, dan mata air itu meluas bagai lautan. Unok terus saja menyeret pohon yang dicabutnya ke tepian. Kini mata air itu telah menjadi danau yang luasnya bagai lautan, dan orang kemudian menyebutnya ssebagai Danau Air Tawar.
Unok barulah menyadari bahwa air bah itu timbul saat dia mencabut pohon besar, dan ia merasa menyesal. Tapi bagai nasi telah menjadi bubur, danau itu semakin meluas bahkan seperti mengejar Unok yang terus berusaha menepikan pohon yang baru saja di cabutnya itu. Penyesalan Unok tidak ada gunanya lagi. Hanya saja Unok mengatakan kepada semua warga yang ditemuinya bahwa jika akan menebang pohon sudah seharusnya memperhitungkan untung dan ruginya, karena penebangan yang sembarangan akan menyebabkan banjir bah.
Dengan penuh penyesalan Unok terus saja menyeret pohon yang dicabutnya itu ke tepian, menghindar dari serangan air danau yang semakin luas, hingga akhirnya dia tiba ditepi laut. Bahkan diceritakan, pohon itu diseretnya menyebrang lautan hingga ke Mekah.